Skip ke Konten

SEJARAH JEMAAT

Sejarah GPIBK Jemaat Betesda Lalanday

Sebuah perjalanan iman, ketekunan, dan kebersamaan yang bertumbuh dari kerinduan akan pelayanan yang lebih dekat bagi warga jemaat di Lalanday.

Berdiri 23 Mei 1958Lalanday, Banggai Kepulauan
Ilustrasi AI suasana pedesaan dan awal persekutuan; bukan foto bangunan asli atau arsip tahun 1958.
Ilustrasi AI suasana pedesaan dan awal persekutuan; bukan foto bangunan asli atau arsip tahun 1958.
Ilustrasi AI perjalanan warga di tengah hujan; visual konseptual, bukan dokumentasi rute Lalanday–Tolo.
Ilustrasi AI perjalanan warga di tengah hujan; visual konseptual, bukan dokumentasi rute Lalanday–Tolo.

AWAL PERGUMULAN

Dari bagian Jemaat Tolo menuju pelayanan mandiri

Pada mulanya, warga Kristen di Lalanday merupakan bagian yang terintegrasi dengan Jemaat Tolo. Untuk mengikuti peribadahan, mereka harus menempuh perjalanan menuju pusat pelayanan di Tolo—termasuk ketika menghadiri ibadah malam seperti Perayaan Natal, Malam Perpisahan Tahun, dan Ibadah Syukuran Jemaat.

Perjalanan itu menjadi semakin berat pada musim hujan. Warga membawa perlengkapan dan bekal makanan melewati jalan setapak yang licin dan berisiko; beberapa di antara mereka bahkan kerap terjatuh. Kondisi geografis ini bukan sekadar kesulitan perjalanan, tetapi menjadi pergumulan bersama tentang bagaimana pelayanan dapat hadir lebih dekat dan berkesinambungan.

Kerinduan akan tempat persekutuan yang dekat kemudian menyatukan para tokoh masyarakat dan orang tua jemaat untuk mengupayakan pelayanan mandiri di Lalanday.

TONGGAK BERSEJARAH

23 Mei 1958

Jemaat Betesda Lalanday resmi berdiri di bawah naungan Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST). Kebaktian perdana dipimpin oleh Bapak Adolof Nggodulano.

01

Kesepakatan Bersama

Tokoh masyarakat dan orang tua jemaat menyatukan aspirasi, menyampaikan permohonan pemisahan, dan menata langkah menuju jemaat mandiri.

02

Jemaat Resmi Berdiri

Tanggal 23 Mei 1958 menjadi penanda lahirnya Jemaat Betesda Lalanday sebagai persekutuan yang berdiri sendiri.

03

Kebaktian Perdana

Ibadah pertama dipimpin Bapak Adolof Nggodulano, membuka lembar pelayanan jemaat di Lalanday.

PARA PERINTIS

Pilar awal berdirinya jemaat

Sejarah mencatat empat tokoh yang menjadi pilar pada masa pembentukan. Keberanian mereka menanggapi kebutuhan warga, membangun kesepahaman, dan memulai pelayanan menjadi warisan yang terus dikenang.

01Petrus Saani
02Arnol Pau-Pau
03Lamuasa Milua
04Adolof Nggodulano
Ilustrasi AI musyawarah komunitas; tokoh yang tergambar bersifat fiktif, bukan potret para pendiri.
Ilustrasi AI musyawarah komunitas; tokoh yang tergambar bersifat fiktif, bukan potret para pendiri.
Ilustrasi AI rumah persekutuan sederhana; bukan dokumentasi bentuk atau tahapan bangunan Gereja Betesda.
Ilustrasi AI rumah persekutuan sederhana; bukan dokumentasi bentuk atau tahapan bangunan Gereja Betesda.

RUMAH IBADAH

Dibangun setahap demi setahap

Sejalan dengan pertumbuhan persekutuan, jemaat membentuk Panitia Pembangunan Rumah Ibadah. Gedung gereja kemudian berkembang melalui beberapa tahapan yang mencerminkan kerja bersama lintas generasi.

1958–1970

Tahap Darurat

Gedung awal dibangun dengan konstruksi sederhana untuk memenuhi kebutuhan mendesak peribadahan jemaat.

1970–1980

Tahap Semi Permanen

Bangunan ditingkatkan menjadi semi permanen dengan ukuran 8 × 10 meter.

1980–1991

Tahap Permanen

Pembangunan dilanjutkan secara menyeluruh menjadi gedung permanen berukuran 10 × 12 meter.

2 Januari 1991

Pentahbisan Gedung Gereja

Gedung permanen ditahbiskan secara resmi oleh Ketua Sinode Gereja Kristen Luwuk Banggai (GKLB).

Ilustrasi pemulihan Gereja Betesda Lalanday setelah bencana alam tahun 2000
Bencana tidak menghentikan pelayanan; jemaat kembali bergotong royong membangun.

UJIAN DAN KETANGGUHAN

Bangkit setelah bencana tahun 2000

Gedung yang ditahbiskan pada 1991 digunakan selama sembilan tahun. Pada 4 Mei 2000, bencana alam melanda wilayah Banggai Kepulauan dan mengakibatkan kerusakan pada bangunan gereja. Situasi tersebut menuntut perbaikan serta pemugaran dalam skala besar.

Sepuluh hari kemudian, pada 14 Mei 2000, dibentuk Panitia Pembangunan Gedung Gereja Periode 2000–2005. Panitia memimpin proses pemugaran sekaligus perluasan gedung menjadi berukuran 12 × 16 meter.

Kisah ini memperlihatkan watak pelayanan Jemaat Betesda Lalanday: tanggap terhadap kebutuhan, setia dalam pergumulan, serta mampu bangkit melalui kebersamaan ketika menghadapi perubahan dan bencana.

WARISAN YANG HIDUP

Sejarah adalah panggilan untuk melanjutkan pelayanan

Dari jalan setapak menuju persekutuan mandiri, dari bangunan sederhana menuju rumah ibadah permanen, setiap tahap mengingatkan bahwa gereja bertumbuh melalui iman, pengorbanan, dan kerja bersama. Generasi masa kini dipanggil untuk menjaga ingatan ini sekaligus meneruskan semangat pelayanan para pendahulu.

Sumber utama: dokumen “Sejarah Gereja Betesda Lalanday”. Narasi penghubung dan refleksi disusun untuk kebutuhan penyajian web; nama, tanggal, ukuran bangunan, dan peristiwa utama mengikuti dokumen sumber.