Kesepakatan Bersama
Tokoh masyarakat dan orang tua jemaat menyatukan aspirasi, menyampaikan permohonan pemisahan, dan menata langkah menuju jemaat mandiri.
SEJARAH JEMAAT
Sebuah perjalanan iman, ketekunan, dan kebersamaan yang bertumbuh dari kerinduan akan pelayanan yang lebih dekat bagi warga jemaat di Lalanday.
AWAL PERGUMULAN
Pada mulanya, warga Kristen di Lalanday merupakan bagian yang terintegrasi dengan Jemaat Tolo. Untuk mengikuti peribadahan, mereka harus menempuh perjalanan menuju pusat pelayanan di Tolo—termasuk ketika menghadiri ibadah malam seperti Perayaan Natal, Malam Perpisahan Tahun, dan Ibadah Syukuran Jemaat.
Perjalanan itu menjadi semakin berat pada musim hujan. Warga membawa perlengkapan dan bekal makanan melewati jalan setapak yang licin dan berisiko; beberapa di antara mereka bahkan kerap terjatuh. Kondisi geografis ini bukan sekadar kesulitan perjalanan, tetapi menjadi pergumulan bersama tentang bagaimana pelayanan dapat hadir lebih dekat dan berkesinambungan.
Kerinduan akan tempat persekutuan yang dekat kemudian menyatukan para tokoh masyarakat dan orang tua jemaat untuk mengupayakan pelayanan mandiri di Lalanday.
TONGGAK BERSEJARAH
Jemaat Betesda Lalanday resmi berdiri di bawah naungan Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST). Kebaktian perdana dipimpin oleh Bapak Adolof Nggodulano.
Tokoh masyarakat dan orang tua jemaat menyatukan aspirasi, menyampaikan permohonan pemisahan, dan menata langkah menuju jemaat mandiri.
Tanggal 23 Mei 1958 menjadi penanda lahirnya Jemaat Betesda Lalanday sebagai persekutuan yang berdiri sendiri.
Ibadah pertama dipimpin Bapak Adolof Nggodulano, membuka lembar pelayanan jemaat di Lalanday.
PARA PERINTIS
Sejarah mencatat empat tokoh yang menjadi pilar pada masa pembentukan. Keberanian mereka menanggapi kebutuhan warga, membangun kesepahaman, dan memulai pelayanan menjadi warisan yang terus dikenang.
RUMAH IBADAH
Sejalan dengan pertumbuhan persekutuan, jemaat membentuk Panitia Pembangunan Rumah Ibadah. Gedung gereja kemudian berkembang melalui beberapa tahapan yang mencerminkan kerja bersama lintas generasi.
Gedung awal dibangun dengan konstruksi sederhana untuk memenuhi kebutuhan mendesak peribadahan jemaat.
Bangunan ditingkatkan menjadi semi permanen dengan ukuran 8 × 10 meter.
Pembangunan dilanjutkan secara menyeluruh menjadi gedung permanen berukuran 10 × 12 meter.
Gedung permanen ditahbiskan secara resmi oleh Ketua Sinode Gereja Kristen Luwuk Banggai (GKLB).
UJIAN DAN KETANGGUHAN
Gedung yang ditahbiskan pada 1991 digunakan selama sembilan tahun. Pada 4 Mei 2000, bencana alam melanda wilayah Banggai Kepulauan dan mengakibatkan kerusakan pada bangunan gereja. Situasi tersebut menuntut perbaikan serta pemugaran dalam skala besar.
Sepuluh hari kemudian, pada 14 Mei 2000, dibentuk Panitia Pembangunan Gedung Gereja Periode 2000–2005. Panitia memimpin proses pemugaran sekaligus perluasan gedung menjadi berukuran 12 × 16 meter.
Kisah ini memperlihatkan watak pelayanan Jemaat Betesda Lalanday: tanggap terhadap kebutuhan, setia dalam pergumulan, serta mampu bangkit melalui kebersamaan ketika menghadapi perubahan dan bencana.
WARISAN YANG HIDUP
Dari jalan setapak menuju persekutuan mandiri, dari bangunan sederhana menuju rumah ibadah permanen, setiap tahap mengingatkan bahwa gereja bertumbuh melalui iman, pengorbanan, dan kerja bersama. Generasi masa kini dipanggil untuk menjaga ingatan ini sekaligus meneruskan semangat pelayanan para pendahulu.
Sumber utama: dokumen “Sejarah Gereja Betesda Lalanday”. Narasi penghubung dan refleksi disusun untuk kebutuhan penyajian web; nama, tanggal, ukuran bangunan, dan peristiwa utama mengikuti dokumen sumber.